Minggu, 19 Mei 2013

Ironis sekali bangsaku

Senin pagi yang cerah
Mentari bersinar terang
Semilir angin membelai kelompok mata
Dipagi ini
Belum genap pukul 8 pagi
Seorang pegawai negri
Yang notabenenya pengawas masyarakat
Yang seharusnya menjaga agar rakyat berjalan pada rel yang seharusnya
Malah manawarkan aku pekerjaan melanggar hukum
Dengan sangat terpaksa
Aku beri dia kuliah umum
Bahwa perbuatan melanggar hukum adalah perbuatan tidak terpuji
Dan itu melanggar norma
Perdata dan Pidana
Setelah kualiah umum kusampaikan
Malah dia balik menantang
Masak sih ngerubah tanggal dan nomor register Bapak ga bisa
Aku bilang

Jumat, 25 Januari 2013

(T_T)


terhitung dari hari ini aku berhenti berharap, menunggu, mengusikmu, dan ..

Terhitung dari hari ini, aku mulai mencintaimu dalam diam, aku mulai merindukan mu dalam sepi, aku mulai bertahan dengan rasa ini tanpa kamu mengetahuinya

Me? there? can i ??


about you

tentangmu : 28 november,



Tentangmu 28 november :
tanggal yang cukup penting bagiku, namun belum tentu penting bagimu. Ini sudah menjadi tradisi, sejak dua tahun yang lalu. Tradisi macam apa? Ya, seperti ini, aku senang menulis tentangmu berulang-ulang setiap tanggal 28 november. Sebagai pengingat bahwa dulu kita pernah bekenalan dan sempat dekat.
Git.. agit! Matamu yang indah dan wajah orientalmu adalah potret yang tidak pernah aku lupakan. Bukan sesal, tapi sangat disayangkan jika selama dua tahun ini, kita tak pernah saling tahu, apalagi bertemu. Beberapa kali aku sempat mampir di daerah rumahmu, menikmati udara yang berembus manis di sana, berjalan-jalan dekat dengan rumahmu.
Sungguh, kita sangat nyaman dengan ketidakjelasan seperti ini. Dulu, dulu sekali, beberapa tahun yang lalu kedekatan kita adalah hal yang tak ingin aku sia-siakan. Bisakah manusia kecil seperti aku melawan kehendak tuhan? Aku tidak sekuat itu.
Perpisahan kita, yang terjadi tanpa dugaanku sebelumnya, tiba-tiba saja hadir. Kita, yang dulu adalah kutub selatan juga utara, yang saling tarik-menarik dan berdekatan, tak lagi punya alas an untuk berjalan sama-sama.
Nona, aku sunggu tak percaya hubungan kita berjalan singkat ternyata masih begitu melekat dalam ingatanku. Aku juga tak paham, mengapa sosokmu yang sempat begitu akrab di otaku telah berubah menjadi sosok yang tak lagi kukenal. Memang tidak ada kata pisah. Tidak juga ada ajakan untuk menyatukan aku dan kamu menjadi kita. Tapi, segalanya yang telah kulakukan bersamamu membawa kejutan dan kenangan tersendiri bagiku, entah bagimu.
Bolehkah aku bercerita tentang pertemuan kita? Mungkin, jika kamu menyempatkan diri untuk membaca, kamu akan bosan mendengar ceritaku. Pertemuan kita diawali dari sapaan terpendek di dunia, “Hai.” Cukup tiga huruf, dan itulah awal sederhana yang mengubah hidupku dan hidupmu. Sapa yang kulayangkan dari chat facebook itu berbuah balasan darimu. Sapaan iseng itu mengantarkan kita pada satu titik, titik ternyaman saat kita saling berkenalan. Aku mengetahuimu. Kamu juga mengetahuiku. Meskipun sama hanya maya, meskipun tak nyata, meskipun hanya lewat tulisan; kamu berbeda dan aku suka.
Kamu adalah veteran dari SMP 108 dan juga veteran di SMA SPJ. Aku tahu kamu tidak nakal, Nona. Kamu gigih dan selalu berjuang untuk yang ingin kuperjuangkan, tapi entah mengapa kau tidak memperjuangkanku? Apa aku tak layak untuk di perjuangkan? Sudahlah, lupakan! Semua sudah lewat dan pertemuan kita harusanya bukan menjadi hal yang harus kusesali. Aku masih mengingat tentangmu. Tentang dedikasimu.
Waktu kita berkenalan, kamu masih di SMA. Masih bersama kekasihmu yang dulu, yang seringkali kau ceritakan padaku. Kamu.. wanita yang selalu lupa makanan apa saja yang masuk ke dalam mulutnya. Wanita yang tak pernah mengeluh sakit. Kocak. Humoris. Dan katanya, kamu seringkali membawa pria berbeda ketika ada suatu acara di sekolahmu. Ah, Nona, mengenai ini hanya soal gossip saja, tapi aku percaya kau tidak seperti kata orang. Aku mempercayaimu. Dan, apakah yang tidak kuketahui mengenai kamu?
Nona, sudah dua tahun, 28 november 2010 memang sudah terlewat. Aku juga sudah berubah, kamu juga sudah pasti berubah. Kenangan kita, hari-hari kita, segala yang terjadi di antara kita pasti sudah berubah. Kamu mungkin sudah melupakanku, melupakan setiap detail diriku yang pernah kuperlihatkan padamu. Segalanya pasti sudah berubah, Nona. Tapi kenangan tetap sama, mekipun orang-orang yang mengingatnya tak lagi sama.
Dulu, kita masih SMP. Sekarang kamu dan aku sudah merasakan bangku SMA. Dulu, kita begitu dekat. Sekarang kita bahkan tak saling kenal. Logiskah jika kamu yang tak pernah kutemui secara nyata bisa menyita perhatianku hingga sejauh ini?
Nona, maafkan aku jika aku masih mengingatmu, masih ingin bercerita tentangmu, dan masih mengingat bercerita tentangmu bukanlah hal yang salah.
Sekali lagi, Selamat 28 November, Nona.
Bersemangatlah di jurusan Transmisi SMK Sandhy Putra Jakarta yang sedang kau tekuni.
Tiba-tiba, aku merindukanmu.

Sabtu, 03 November 2012

" Curhatan para GAMER's "


KENAPA YAH PARA GAMERS JARANG DI LIRIK CEWEK

 * Kenapa sih kebanyakan cewek saat tau kita ini gamerss langsung pada kaburr atau menghindar atau bisa dibilang g mau dikenal??? (ckckck..)
* Oke lah kita emank gak kayak AMOR yang bisa kebut - kebutan dan balapan,atau yang anak2 tongkrongan yang gaya stylenya keren2..
* Kita juga ga kaya anak band yang pintar maen alat musik

( tapi saya kira banyak anak gamers yang bisa, cuman lebih memilih dunia game)
( kita juga bisa kebut2an tapi kita gak mau,karna itu meresahkan orang lain atau merugikan sekitar )

>>>>>> Tapi tau ga,?? dari survei yang membuktikan, sebagian besar gamers itu orangnya SETIA  !!!(Kaya yg bikin note's ini contohnya)

soalnya mereka pasti tiap hari kerjaannya di net, jarang jalan, kalo jalan pasti sama anak - anak net nah karena mereka jarang jalan pasti jarang ketemu sama cewe - cewe !!! pastinya kan mereka cuman setia sama pacar mereka masing - masing..

Tapi ada yang bertanya, "tapi pasti tiap hari ketemu sama cewek terus menerus di kampus atau disekolah ( pacaran 1 gedung ) saya jamin cepat BOSAN,soal nya tiap hari liat mukanya terus mau ganteng kaya apa pun mau cantiknya kaya miyabi tetep aja bosen tiap hari klo di liat terus",.

>>>>> bagus nya GAMER'S jarang ketemu sama cewe nya karna pas sekali ketemu atau ga ketemu2 GAMER'S bisa merasakan kerinduan dengan tersendiri-nya,,dan pada saat itu pasti sang GAMER'S mengajak jalan atau menghampiri sang pacar untuk BERCANDA-CANDAAN yah kalo ada duit pasti ngajak ketempat yang " ROMANTIS " ( PASTI )

Ada beberapa alasan cewek kenapa gak terlalu suka dengan cowo GAMER'S :

Jumat, 26 Oktober 2012

"Ada Usaha, Ada Nilai"

Travel In Love


“Kata orang, perjalanan akan menguji cinta. Aku tidak merasa ini cara yang bagus. Perjalanan adalah cara untuk menikmati hidup, jadi tidak bisa dianggap suatu misi, terlebih lagi dijadikan suatu kesempatan untuk mengawasi pasangan.”  

Saat itu di Leshan, Provinsi Sichuan, barat daya China, Li Qi sempat bertengkar dengan Liang Lu setelah mengunjungi situs Buddha raksasa. Sebelum kemudian mereka akur lagi dan kembali menikmati perjalanan. 

Buku catatan perjalanan ini mengarah pada tema abadi: cinta. Dua orang penulisnya, Liang Lu dan Li Qi, sepasang kekasih yang gemar jalan-jalan. Mereka memutuskan berhenti bekerja sebagai wartawan demi bertualang bersama. Berkeliling China, mereka mengunjungi 60 kota, 14 provinsi, dan wilayah-wilayah otonom di “Negeri Tirai Bambu”. Tentu saja bertaburan kisah romantis di buku yang cukup tebal ini. 

Yang menjadi narator adalah Li Qi, si perempuan. Dia menulis buku ini layaknya sebuah novel dengan alur kisah maju dan diselingi beberapa kilas balik. Sebagai pembuka, Li Qi mengisahkan sekelumit mengenai dirinya. Sejak remaja hingga kuliah S2, dia sudah suka bepergian, tapi sendirian. Saat bekerja sebagai wartawan di Shenzhen, Provinsi Guangdong, daerah selatan China, dia sekantor dengan Liang Lu yang kemudian menjadi pasangannya. Sejak itu, petualangan bersama dimulai.  

Kita bisa dengan nikmat menganggap buku ini seolah novel. Dengan dua tokoh utama yang beda karakter. Liang Lu ekspresif, sementara Li Qi kaya pertimbangan. Li Qi menyebut pasangannya agak bodoh, tapi itu tidak masalah karena dia mencintainya. Ya, kisah kerap berpusat pada dua orang yang dimabuk cinta ini. Li Qi dengan apik dan santai, serta insting kepenulisannya yang terasah bertahun-tahun sebagai wartawan, menautkan segala ihwal yang didapat dalam perjalanan dengan keberadaan dunia kecil dia dan Liang Lu. 

Galibnya buku catatan perjalanan berbobot, Travel in Love menawarkan bukan hanya gambaran detail sebuah tempat yang disinggahi, melainkan tentang manusia dan kebudayaannya, tentang hal-hal partikular yang berlaku di tempat tertentu.  


Awal Petualangan 

Pertama, tahun 2005, mereka pergi ke Kota Tua Lijiang di Provinsi Yunnan. Di Lijiang, selama setahun mereka mengelola Pondok Lu Qi (kependekan dari Liang Lu & Li Qi), sebuah penginapan yang kemudian tersohor di kalangan backpacker China. Lijiang adalah salah satu destinasi wisata utama di China, tempat bermukim suku minoritas Naxi. Sejak 1997, Lijiang masuk daftar world heritage site UNESCO.  

Dalam catatannya tentang suku Naxi, Li Qi menggambarkan, “Kebanyakan rumah suku Naxi dibuat dari kayu. Di depan rumah biasanya digantungkan benda yang disebut ‘yu’ (ikan). Untuk memberi kesan di dalam rumah terdapat banyak air karena yang paling ditakutkan rumah berbahan kayu adalah api. Konon, dengan digantungkannya ‘yu’ dapat mencegah api datang. Sebagian orang menggantungkan boneka kayu yang memiliki taring, disebut-sebut sebagai dewa api, untuk dipuja agar rumah mereka terhindar dari api.” (halaman 37) 

Setelah sukses menjadi bos penginapan, Liang Lu dan Li Qi baru benar-benar memulai perjalanannya menjelajahi China. Di Dali, Provinsi Liaoning, mereka antara lain mengunjungi Kuil Tiga Pagoda atau Kuil Chongsheng yang dibangun pada masa Dinasti Tang (618-907). Demi menghemat isi kocek, mereka kadang memutar otak agar bisa masuk ke tempat wisata tanpa membayar. Di beberapa tempat, ini jadi pengalaman lucu sekaligus menegangkan. Mengenai soal ini mereka memang bisa disebut sepasangbackpacker nakal. 

Liang Lu dan Li Qi merupakan pasangan yang serba ingin tahu. Kepada pemandu di setiap tempat wisata yang dikunjungi, mereka suka menanyakan segala hal, termasuk: mengapa kamu bekerja menjadi pemandu wisata? Sudah menikah? Dan seterusnya. Maka, dengan beberapa pemandu, mereka pun jadi sangat akrab. Salah satunya adalah Xi Siku. Dia pemandu wisata di Jiuzhai, sebuah danau indah di pedalaman Provinsi Sichuan—salah satu tempat pembuatan filmYing Xiong (Hero) (2002) yang dibintangi Jet Li itu.  

Hubungan mereka tidak berhenti setelah kembali ke tempat asal. Pada 12 Mei 2008, beberapa tahun setelah perjalanan Liang Lu dan Li Qi ke Jiuzhai, terjadi gempa bumi di wilayah tempat Xi Siku tinggal. Banyak orang meninggal dunia, termasuk ayah Xi Siku. Rumah Xi Siku yang dibangun dengan susah payah hancur. Karena sangat prihatin dengan keadaan itu, Liang Lu dan Li Qi dengan cepat menjual sebuah rumah mereka di Huizhou. Hasil menjual rumah disumbangkan pada Xi Siku.  

Ya, cerita apik dan renik seperti soal persona Xi Siku, atau soal pertemuan dengan sesama backpackeryang kadang menyenangkan tapi tak jarang juga menjengkelkan, melengkapi soal-soal detail kebudayaan, karya-karya sastra, filosofi, juga anekdot setempat di setiap daerah yang dikunjungi. Hal-hal kecil memang bisa jadi kekuatan dalam buku semacam ini. Ini mungkin seperti diungkap Jason Wilson, inisiator antologi tahunan The Best American Travel Writing (2000), musafir-pelancong adalah pencatat segala yang partikular. Menurut Wilson, “Membaca laporan seorang sastrawan-pelancong tentang hal-hal partikular, hal-hal kecil, cara-cara khusus manusia di suatu tempat berbicara dan bertindak, mungkin merupakan cara terbaik untuk melampaui berbagai klise tentang orang lain.” 

Soal filosofi, di rumah penduduk di Dali, mereka mencatat sebuah pelajaran. Mereka mencicipi sajian teh san dao (teh tiga rasa) yang terkenal. Nama teh ini diambil dari ungkapan sebuah legenda filosofi, “Saat belajar apa pun, kita harus melewati pahitnya terlebih dahulu, barulah kita akan berhasil.” Cara menyajikan teh san dao sangat unik. Sajian pertama teh sangat wangi, tapi pahit sekali. Sajian kedua, ke dalam teh ditambahkan gula merah, hazelnut, wijen, dan rushan, rasanya sangat manis dan sedap. Sajian ketiga, ke dalam teh dimasukkan madu dan daun pedas. Di dalam manis terasa pahit, di dalam pahit terasa manis, manis sedikit pedas, karena itu disebut “teh kenangan”. Konon, sang filosof zaman dahulu berkata, “Pertama pahit, kedua manis, ketiga kenangan. Belajar maupun bermasyarakat, semua seperti itu.” 

Pasangan Liang Lu dan Li Qi mungkin memang avonturir sejati. Li Qi berkata kepada Hu Yi, seorang tamunya di pondok Lu Qi, “Kami menjadi berani karena tidak ada orang yang memberi kami kesempatan untuk lari. Namun, mereka yang punya perasaan memiliki di hatinya, selamanya tidak akan memiliki rumah. Jadi, jangan menggantungkan harapan pada mimpi orang lain, terutama jangan merajut mimpi berdasarkan ceritaku.”

Sayangnya buku ini minus foto-foto. Padahal, Li Qi menyebut Liang Lu gila foto. Apa pun yang buat dia menarik dijadikannya objek jepretan kamera. Keindahan alam dan eksotisme kebudayaan yang direkam Liang Lu dan Li Qi bakal membuat siapa pun yang punya minat terhadap China ingin melihatnya secara langsung. Pergi sendirian atau dengan rombongan. Atau berduaan saja bersama pasangan terkasih seperti Li Qi dan Liang Lu.*